Resensi Film Keluarga Cemara

Identitas Film

Judul Film : Keluarga Cemara

Tanggal rilis : 3 Januari 2019

Sutradara : Yandy Laurens

Produser : Anggia Kharisma, Ginatri S. Noer

Penulis : Ginatri S. Noer, Yandy Laurens

Pemain : Ringgo Agus Rahman sebagai Abah

    Nirina Zubir sebagai Emak 

    Adhisty Zara sebagai Euis 

    Widuri Puteri sebagai Cemara

Produksi : Visinema Pictures, Ideosource Entertainment, Kaskus. 

Durasi : 1 jam 50 menit

Peresensi : Kartika Cahya Kumala


Sinopsis


Film Keluarga Cemara merupakan salah satu adaptasi dari sinetron keluarga paling populer yang berjudul sama pada masanya di tahun 1990-an. Film ini menceritakan tentang sebuah keluarga yang tinggal di Jakarta harus menghadapai kenyataan  yang semula nyaman dan mapan lalu kemudian mendadak bangkrut.. Suatu hari harta benda tiba-tiba habis akibat ditipu oleh adik iparnya. Akhirnya rumah keluarga Abah disita dan keluarganya pindah ke rumah warisan yang cukup jauh dari kota. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang ia memiliki, Abah berusaha menjadi kepala keluarga serta ayah yang baik untuk anak-anaknya. Untung saja, Emak tak pernah lelah mendampinginya dan berusaha menjadi sandaran di saat mereka sedih. Abah, Emak, Euis, dan Ara melewati masa adaptasi yang dramatis. Abah menjadi kuli bangunan, Emak berjualan keripik opak. Selain itu Euis dan Ara yang terbiasa hidup di kota pun harus beradaptasi dengan keadaan yang serba sederhana. Dengan segala keterbatasan yang ada, keluarga ini pun menetapkan prinsip bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga.


Evaluasi


Film Keluarga Cemara ini adalah salah satu film keluarga yang ceritanya menghangatkan jiwa. Dengan ceritanya yang ringan dan sederhana, membuat film ini layak dan cocok untuk ditonton oleh siapa saja. Selain itu, pesannya yang bermakna juga membuat film ini menarik hati para penonton yang bahkan menjadi ingin menonton ulang film tersebut. Naskah yang ditulis tidak hanya terfokus pada nilai moralnya saja, namun juga terdapat unsur hiburan-hiburan yang mengundang tawa sehingga penonton ikut tertawa dan bahagia.


Kelebihan film ini adalah walaupun ceritanya ringan dan sederhana, emosi dari film ini sangatlah nyata dan bahkan mungkin beberapa penonton bisa merasakan berada di posisi keluarga tersebut. Akting yang dimainkan oleh pemainnya juga sangat luwes dan tidak tampak seperti sedang berakting, emosi yang dibawakan sangat sampai ke hati para penonton. Keberhasilan para pemain dalam membawakan peran menurut saya patut diacungi jempol. Tak hanya dari segi naskah dan pemain, Ifa Fachir sebagai penata musik menyajikan lagu tema yang dinyanyikan oleh Bunga Citra Lestari “Harta Berharga” sangat cocok dengan tema filmnya dan berhasil menyatu dengan segala emosi yang ada. 


Walaupun dirilis tahun 2019 dan dibawakan dengan suasana yang lebih kekinian, film ini juga berhasil membawa kembali nuansa tradisional dengan barang-barang ikonik yang ada. Terdapat rumah sederhana di suatu desa, opak dan juga becak yang dulu familier di sinetronnya. Film ini seakan membuat nostalgia, namun tetap relevan di masa sekarang.


Dengan segala kelebihan yang ada, sayang sekali ada beberapa detail kekinian yang cukup mengganggu di film ini. Salah satunya adalah kehadiran transportasi daring yang muncul terlalu sering dan malah terkesan mempromosikannya. Selain itu, terdapat beberapa adegan juga yang masih terasa seperti sinetron layar kaca. Misalnya saat Abah kecelakaan. Penonton seakan diberi 'kode' lewat pergerakan kamera dan dialog bahwa kecelakaan itu akan terjadi, persis seperti adegan-adegan dalam sinetron.


Terlepas dari segala kekurangan yang ada, Keluarga Cemara berhasil menjadi salah satu film terbaik di tahun 2018 dengan segala penghargaan dan apresisasi dari masyarakat Indonesia. Tak salah lagi, film ini memang sudah sangat berhasil dari segala aspek. 


Komentar